Analisis Tokoh Utama pada Novel Cinta Tak Kenal Kasta Karya Abdul Muis - erapandu

Analisis Tokoh Utama pada Novel Cinta Tak Kenal Kasta Karya Abdul Muis

Analisis Tokoh Utama pada Novel Cinta Tak Kenal Kasta Karya Abdul Muis

Analisis tokoh utama pada novel Cinta Tak Kenal Kasta - Karya Ilmiah : Anita Rahmawati.
Cari di sini :
Materi Pelajaran SMP/MTs dan SMA/SMK  Buka
Buku Pelajara SD, SMP/MTs, dan SMA/SMK Buka
Kumpulan Soal SMP dan SMA  Buka

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sudjiman, 1988: 16).

Sedangkan penokohan yaitu penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh oleh pengarangnya. Tokoh dibagi menjadi dua jenis, yakni tokoh utama dan tokoh tambahan.

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan dalam penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. 

Tokoh utama yang terdapat dalam novel Cinta Tak Kenal Kasta karya Abdul Muis adalah Susan
Tokoh ini sering dimunculkan dari awal hingga akhir cerita.

Susan adalah seorang pemuda yang baik, pekerja keras, bersahaban. Ia tamatan SMP yang sudah lama menjadi pengangguran. 

Kemudian ia pergi merantau ke kota meninggalkan kampung halaman menurutkan panggilan hati mencoba untuk mengadu nasib. Akan tetapi pekerjaan yang diinginkan tidak juga dapat. 

Setelah beberapa tahun di kota atas bantuan seseorang teman ia dapat pula melanjutkan sekolahnya di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan setelah tamat dapat pula bekerja di salah satu perusahaan perkebunan sebagai asisten.

Sebelum itu ia sempat berkenalan dengan seorang gadis anak orang kaya yang terpelajar lalu jatuh cinta pada gadis itu. Namun sayangnya orang tua atau ayah si gadis tidak merestui hubungan mereka, karena menganggap pemuda pengangguran tidak berpendidikan lagi miskin. 

Akibatnya sang pemuda patah hati dan berakhir dengan luka yang mendalam karena cinta. Hal tersebut terlihat dari kutipan di bawah ini.

“Aku adalah anak tunggal yang tak punya saudara seayah seibu. Aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku. Setelah aku tamat SMP, kakek dan nenekku telah tiada lagi. Itu sebabnya aku memutuskan untuk pergi meninggalan kampong halamanku (3).

Kutipan di atas sangat jelas bahwa Susan adalah anak tunggal yang tidak memiliki saudara. Susan dibesarkan oleh kakek dan neneknya yang suah meninggal setelah lulus sekolah. 

Kehidupannya mulai membaik setelah ia bekerja, hingga ia tertidur dan bermimpi ada sosok yang datang menggunakan pakaian serba putih namun, tidak berkata apapun. 

 Hal tersebut dilihat dari kutipan di bawah ini.

“Dalam tidur siangku itu, aku bermimpi didatangi apa gerangan dengan pakaian serba putih, melihat kepadaku dengan wajah yang sempurna, namun tidak berkata apa-apa”(42).

Berdasarkan kutipan di atas, dijelaskan bahwa Susan bermimpi ditemui Neneknya yang sudah meninggal setelah Susan lulus sekolah. Namun dalam mimpi tersebut Neneknya tidak berkata apa-apa kepadanya

“Selama bekerja, aku sudah habis pakaian 3 stel, baru dapat 1 stel, ya….,masih kuranglah. Tapi ya….,sudahlah, itu pun sudah sukur, bias makan dan dibelikan pakaian. Kalau mau nambahin nantilah kalau sudah dapat duit”(56).

Kutipan di atas digambarkan Susan bermimpi dengan pakaian serba putih, tapi Susan tidak mengerti apa maksud dari wajah yang sempurna tanpa ada sepatah katapun. 

Kutipan di atas digambarkan bawa Susan bekerja dengan memiliki 3 stel baju yang ia kenai selama bekerja.

Tokoh utama sudah bekerja selama dua bulan dihutan kebun durian yangia kerjakan. Dia memiliki semangat yang itnggi dalam bekerja.

Hal ini terlihat pada kutipan di bawah ini.

“Dua bulan lebih…,siang dan malam aku berada di hutan kebun durian bersama dengan bang Ramlan. Kukatakan hutan, karena keadaannya memang persis seperti hutan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon kayu besar-besar, padahal pohon-pohon itu hanyalah pohon durian, cempedak, manggis, diselingi beberapa pohon rambung, pohon aren dan juga rumpun-rumpun bamboo” (64).

Berdasarkan kutipan di atas, menggambarkan Susan adalah sosok yang rajin bekerja keras, terlihat jelas bahwa susan bekerja siang dan malam berada dihutan durian bersama pemilik kebun durian tersebut.

“Aku sudah berusaha mencari pekerjaan, namun hasilnya tak ada, apalagi mendengar dari beberapa teman yang satu propesi denganku, propesi pengangguran, yang mengatakan cari kerja zaman sekarang sulit. Harus punya persyaratan 30,1. Deking, 2. Dukun, dan 3. Duit. Semua persyaratan itu tidak dimiliki. Aku sudah nerasa putus kamus, mau cari kerja kemana kalau begitu. Kini jadinya aku luntang-lantung bagaikan perahu hilang kemudi” (86).

Berdasarkan kutipan di atas, menggambarkan sosok Susan yang berusaha untuk mencari pekerjaan. Menurutnya, ijasah SMP masih sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. 

Namun dalam usahanya Susan memiliki perasaan tidak percaya diri dan putus asa dalam menghadapi hidupnya.

“Bagiku semua itu masih sebuah mimpi yang belum terjawab, atau juga sebagai seorang musafir yang berjalan dipadang pasir, sedang kehausan dari kejauhan melihat oase ternyata setelah dihampiri cuma patamorgana, semakin jauh berjalan semakin pula tidak berjalan” (92).

Kutipan di atas sangat jelas bahwa tokoh utama Susan adalah orang yang suka bekerja keras, dengan bekerja dihutan kebun durian. Namun, dibalik kerja kerasnya ada rasa keputus asaan.

“Aku mulai jaga jarak, aku akan pulang ke Tebing Tinggi tapi dimana aku tinggal ? Aku sudah lama tak menetap di rumah bang Ramlan. Aku jadi segan mau dirumahnya, apa dia masih butuh dengan tenagaku? Pikiranku jadi gemang menghadapi kenyataan ini. Tapi kemana aku harus pergi?” (96).

Berdasarkan kutipan di atas, terlihat Susan yang menjaga jarak degan gadis yang ia suka kemudian pergi ke Tebing Tinggi. Kemudian Susan pergi ketempat sahabatnya yaitu Ramlan meskipun penuh dengan perasaan tidak yakin.

“Aku tersentak dari lamunanku yang terus menerawang, mendengar suara Kedan Robin menegurku, yang dari tadi tidak bersuara, memperhatikan diriku” (133).

Kutipan di atas sangat jelas bahwa tokoh utama merasa tidak percaya diri dan mulai menjaga jarak dengan kembali kekampungnya dengan membawa pemikiran yang tidak menentu. 

Susan penyuka musik, dan ia juga suka membuat lagu hasil ciptaannya sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan di bawah ini.

“Aku kembali merebahkan diri dengan tidak perduli keadaan sekelilingku, atau ditempat siapa aku berada, dan seketika akupun tertidur dengan dengan lelap sampai aku terbangun kembali pukul 03.00 sore” (161).

Berdasarkan kutuipan di atas, dijelaskan bahwa tokoh utama merasa lelah, tidak perduli dikelilingnya dan dimana tempat ia berada, hingga pada akhirnya tertidur dan terbangun disore hari.

“Aku mengambil buku catatan dan sebuah pena dalam tasku, lalu kumulai menarikkan pulpen dengan lincahnya diatas lembaran buku catatanku, lalu terukirlah bait demi bait menjadikan sebuah lagu” (179).

Berdasarkan kutipan di atas, terlihat jelas bahwa tokoh utama suka membuat bait-bait lagu untuk dinyanyikan. 

 Ia juga suka menciptakan sebuah lagu yang bagus untuk teman-temannya dan grup bandnya.

“Selesai aku menyanyikan lagu tersebut, lalu aku mengeluarkan dari saku bajuku selembar kertas berisi goresan pena sebuah karya lagu terbaru, kemudian kuberikan pada Rita. Rita mulai membaca judul lagu itu:”Sama Sayang” (182).

Kutipan di atas tergambar bahwa Susan seorang pencipta lagu, dan pengarang lagu, dia juga sosok baik dan sosok yang asyik dan juga romatis. 

Tokoh utama juga memiliki kisah percintaan, dengan kondisi yang pas-pasan pengahasilannya terbatas. Hal ini dapat dilihat dari kutipan di bawah ini

“Aku berfikir lagi bila Rita lulus, ia akan melanjutkan kuliah keperguruan tinggi. Bagaimana aku? Berapa lama aku menunggu cintanya? Aku jadi bingung sendiri. Kegiatan dan penghasilanku terbatas. Kalau Cuma ini yang diusahakan rasanya tidak bisa berkembang. Tidurpun diruangan sempit, pas-pas buat tidur seorang saja” (243).

Berdasrkan kutipan di atas, menggambarkan kisah kehidupan tokoh utama yang hanya bekerja dengan hasil yang pas-pasan. 

Tidurpun dengan ruangan yang sempit, tokoh utama berfikir bagaimana kisah cintanya jika keadaan dan kondinya tidak seperti yang diharapkan, hingga muncullah perasaan cemas dan tidak percaya diri pada tokoh utama.

“Dari sehari kesehari cintaku sama Rita semakin akrab, dan semakin melekat, bagaikan daun dengan tangkainya, bak sirih dengan pinangnya. Cinta yang tak lekang terkena panas, dan tak luntur karena hujan. Tak siapapun dapat memisahkan kami, kecuali maut dating menjemput” (250).

Kutipan di atas tergambar bahwa Susan memiliki perasaan kasih sayang dan perasaan cinta kepada Rita. Namun, kisah cintanya tak semulus yang ia bayangkan. karena keterpautan antara keadaan dan kondisi yang jauh berbeda dengan perempuan yang ia cintai. Dia adalah orang kaya dan tokoh utama adalah oang miskin.

Tokoh utama dalam novel Cinta Tak Kenal Kasta mulai memperbaiki kehidupannya. Ia bekerja di sebuah perusahaan. Untuk kerjanya ia harus membuat surat tugas dan mengantar laporan kerjanya kekantor emplasemen. Hingga waktu berjalan ia mengambil cuti perusahaan untuk mengambil hari libur untuk menemui orang-orang terdekatnya. 

Hal ini dilihat dari kutipan di bawah ini.

“Pagi sesudah sarapan , aku pergi kekantor dulu menjumpai ADM melaporkan diriku bahwa aku sudah datang. Oleh ADM aku diberi surat tugas untuk memulai kerja besok, lengkap dengan fasilitas kerja” (267).

Berdasarkan kutipan di atas, dijelaskan bahwa Susan sudah mulai bekeja. setiap pagi sesudah sarapan ia pergi kekantor untuk bertemu dengan staf perusahaannya untuk melaporkan hasil kerjanya.

“Setiap aku mengantar laporan kekantor emplesemen, aku selalu memeriksa surat yang dating atau masuk yang diantar oleh petugas kantor pos, namun belum ada lagi surat dari Kedan Robin maupun Rita. Rasanya aku sudah tak sabar menunggu, karena kuhitung hari sudah satu bulan dari aku mengirimkan suratku kepada mereka berdua. Aku cemas apakah suratku tudak sampai? Tapi itu rasanya tak mungkin” (275).

Berdasarkan kutipan di atas, dijelaskan tokoh utama adalah pria yang bertaggung jawab. Tergambar jelas bahwa setiap pekerjaan yang ia selesaian selalu mengantar laporan kekantor emplesemen. 

Dalam kesibukannya bekera Susan merasa rindu dengan kekasihnya dan sahabatnya. Tokoh utama juga merasa cemas selama mengirim surat tidak pernah ada balasan.

„Waktu berjalan terus, hari yang kunantikan telah tiba. Aku mendapat cuti perusahaan selama 14 hari. Aku akan pergi ketempat tulang Jaurman, bertemu Bunde dan sahabatku Kedan Robin. Juga kepada tante mamanya Rita, ingin lebih jelas tentang keadaan Rita, apakah ia sudah enak kerja di Medan? Akan kusuruh tulang bersama bunde dating kerumah Rita untuk melamarnya” (279).

Kutipan di atas digambakan bahwa Susan adalah seseorang yang ulet dan teliti, terkadang juga merasa cemas jika ingin menghadapi sesuatu yang tidak biasa ia hadapi. 

Susan juga sangat peduli dengan orang lain dan persahabatan yang baik antara keluarga temannya sendiri. Susan mendengar cerita tentang persetujuan lamaran yang ia ajukan kepada orang tua Rita yaitu gadis yang ia cintai, hal tersebut dapat dilihat dari kutipan di bawah ini.

“Mendengar cerita tulang, aku terhenyak duduk sambil menarik nafas dalam-dalam, sambil memikirkan betapa kejam papanya Rita, sanggup merenggut kebahagiaan anaknya sendiri dengan memandang harta, kasta, dan jabatan” (289).

Berdasarkan kutipan di atas, menggambarkan sosok Susan yang sedang kecewa karena keputusan Ayah dari gadis yang ia cintai tidak dapat restu, karena memandang dirinya dari harta dan kasta yang berbeda.

Berdasarkan uraian di atas, tokoh utama dalam novel Cinta Tak Kenal Kasta karya Abdul Muis dapat disimpulkan bahwa semua usaha yang ia lakukan untuk membahagiakan perempuan yang ia cintai tidak dapat dipersatukan. Tokoh utama kecewa dengan keputusan orang tua wanita yang ia cintai. 

Walaupun begitu tokoh utama tetap menerima dengan baik dan lapang dada untuk menghadapi masalah tersebut.

Baca juga:

Referensi:
Faruk. 2010. Pengantar Sosiologi Sastra.
Muis, Abdul. 2015. Cinta Tak Kenal Kasta.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel