Rangkuman Materi Memahami Al-Asmaul Al-Husna PAI Kelas 10 - erapandu

Rangkuman Materi Memahami Al-Asmaul Al-Husna PAI Kelas 10

Rangkuman Materi Memahami Al-Asmaul Al-Husna: Pelajaran Agama Islam Kelas 10

Materi Aku Selalu Dekat dengan Allah Swt. PAI - Memahami Al-Asmaul Al-Husna, Pengertian Al-Asmaul Al-Husna, Dalil tentang Al-Asmaul Al-Husna, memahami makna Al-Asmaul Al-Husna, menerapkan perilaku mulia, membuka relung hati, dan mengkritisi sekitar kita.


Cari di sini :
Materi Pelajaran SMP/MTs dan SMA/SMK  Buka
Kumpulan Soal SMP/MTs dan SMA/SMK  Buka
Download Buku Pelajaran  Buka/Unduh
Download Modul Ajar  Buka/Unduh

Memahami Al-Asmaul Al-Husna

A. Pengertian Al-Asmaul Al-Husna

Al-Asmaul Al-Husna terdiri atas dua kata, yaitu Asmā yang berarti "nama-nama", dan Husna yang berarti "baik" atau "indah". 

Al-Asmaul Al-Husna artinya nama-nama Allah Swt. yang baik.

Jadi, Al-Asma’u Al-Husna adalah nama-nama yang baik lagi indah yang hanya dimiliki oleh Allah Swt. sebagai bukti keagungan-Nya. 

Kata Al-Asmaul Al-Husna diambil dari ayat al-Qur’ān Q.S. Ţāhā/20:8. yang artinya, “Allah Swt. tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia memiliki Al-Asmaul Al-Husna (namanama baik)".

Download Rangkuman Materi Pelajaran Tingkat SMP dan SMA 

Buka/Unduh

B. Dalil Tentang Al-Asmaul Al-Husna

1. Firman Allah Swt. dalam Q.S. al-A’rāf/7:180


dalil al asmaul al husna

Artinya:
“Dan Allah memiliki al-Asm±u-al-¦usn± (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya de-ngan menyebutnya al-asmaul al husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. al-A’raf/7: 180).


2. Hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan Imam Bukhari

Dalil tentang Al-Asmaul Al-Husna

Artinya: 

Dari Abu Hurairah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa yang menghafalkannya, maka ia akan masuk surga”. (H.R. Bukhari)

Berdasarkan hadis di atas, menghafalkan Al-Asmaul Al-Husna akan mengantarkan orang yang melakukannya masuk ke dalam surga Allah Swt. 

Namun harus diiringi juga dengan menjaganya, baik menjaga hafalannya dengan terus-menerus menzikirkannya, maupun menjaganya dengan menghindari perilaku-perilaku yang bertentangan dengan sifat-sifat Allah Swt. dalam Al-Asmaul Al-Husna tersebut.


C. Memahami makna Al-Asmaul Al-Husna (al-Karim, al-Mu’min, al-Wakil, alMatin, al-Jami’, al-‘Adl, dan al-Akhir).

1. Al-Karim

Secara bahasa, al-Karim mempunyai arti "Yang Maha mulia", "Yang Maha Dermawan" atau "Yang Maha Pemurah". 

Secara istilah, al-Karim diartikan bahwa Allah Swt. Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah yang memberi anugerah atau rezeki kepada semua makhluk-Nya.

Dapat pula dimaknai sebagai Zat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi Nikmat dan keutamaan, baik ketika diminta maupun tidak.

Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya:

Dalil Al Karim

Artinya: “Hai manusia apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah?” (Q.S. al-Infitar:6)


2. Al-Mu’min

Al-Mu’min secara bahasa berasal dari kata "amina" yang berarti "pembenaran", "ketenangan hati", dan "aman". 

Allah Swt. Al-Mu’min artinya Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluk-Nya, terutama kepada manusia.

Jika bukan karena Allah Swt. yang memberikan rasa aman dalam hati, niscaya kita akan senantiasa gelisah, takut, dan cemas. 

Firman Allah Swt. mengenai Al-mu'min:

Dalil al-mu min

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (Q.S. al-An’ām/6:82)


3. Al-Wakil

Kata “al-Wakil” memiliki arti "Maha Mewakili" atau "Pemelihara". 

Al-Wakil artinya Allah Swt. yang memelihara dan mengurusi segala kebutuhan makhluk-Nya, baik itu dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. 

Dia menyelesaikan segala sesuatu yang diserahkan hambanya tanpa membiarkan apa pun terbengkalai. 

Dengan demikian, orang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah Swt., akan memiliki kepastian bahwa semua akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Hal itu hanya dapat dilakukan oleh hamba yang mengetahui bahwa Allah Swt. yang Mahakuasa, Maha Pengasih adalah satu-satunya yang dapat dipercaya oleh para hamba-Nya.

Dalil tentang Al-Wakil dari dalam al-Qur’ān:

Dalil tentang Al-Wakil

Artinya: “Allah Swt. pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (Q.S. az-Zumar/39:62).


4. Al-Matin

Kata Al-Matin artinya "Mahakukuh". 

Al-Matin berarti Allah Swt. adalah Mahasempurna dalam kekuatan dan kekukuhan-Nya. Kekukuhan dalam prinsip sifat-sifat-Nya. Allah Swt. juga Mahakukuh dalam kekuatan-kekuatan-Nya. 

Oleh karena itu, sifat al-Matin adalah kehebatan perbuatan yang sangat kokoh dari kekuatan yang tidak ada taranya. 

Kekukuhan Allah Swt. yang memiliki rahmat dan azab terbukti ketika Allah Swt. memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya. 

Tidak ada apa pun yang dapat menghalangi rahmat ini untuk tiba kepada sasarannya. Demikian juga tidak ada kekuatan yang dapat mencegah pembalasan-Nya. 

Akhlak kita terhadap sifat al-Matin adalah dengan beristiqamah (meneguhkan pendirian), beribadah dengan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikan menyesatkan, terus berusaha dan tidak putus asa serta bekerja sama dengan orang lain sehingga menjadi lebih kuat.

Firman Alloh Swt. tentang Al-Matin

Firman Alloh Swt. tentang Al-Matin

Artinya: “Sungguh Allah Swt., Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” (Q.S. aż-Żāriyāt/51:58).


5. Al-Jami

Al-Jami secara bahasa artinya "Yang Maha Mengumpulkan/Menghimpun", 

Al-Jami berarti Allah Swt. Maha Mengumpulkan/Menghimpun segala sesuatu yang tersebar atau terserak. Allah Swt. Maha Mengumpulkan apa yang dikehendaki-Nya dan di mana pun Allah Swt. berkehendak.

Penghimpunan ini ada berbagai macam bentuknya, di antaranya adalah mengumpulkan seluruh makhluk yang beraneka ragam, termasuk manusia dan lain-lainnya, di permukaan bumi ini dan kemudian mengumpulkan mereka di padang mahsyar pada hari kiamat.

Firman Alloh Swt. tentang Al-Jami

Rangkuman Materi Memahami Al-Asmaul Al-Husna

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyalahi janji.”(Q.S. Ali Imrān/3:9).

Allah Swt. juga mengumpulkan di dalam diri seorang hamba ada yang lahir di anggota tubuh dan hakikat batin di dalam hati. Barang siapa yang sempurna ma’rifatnya dan baik tingkah lakunya, maka ia disebut juga sebagai Al-Jami. Dikatakan bahwa Al-Jami ialah orang yang tidak padam cahaya ma’rifatnya.


6. Al-Adl

Al-Adl berasal dari kata "adala" yang berarti "lurus" dan "sama".

l-Adl artinya "Maha adil".  Keadilan Allah Swt. bersifat mutlak, tidak dipengaruhi oleh apa pun dan oleh siapa pun. 

Keadilan Allah Swt. juga didasari dengan ilmu Allah Swt. yang Maha Luas. Dengan demikian, tidak mungkin keputusan-Nya itu salah. 

Allah Swt. dinamai Al-Adl karena keadilan Allah Swt. adalah sempurna. 

Dengan demikian, semua yang diciptakan dan ditentukan oleh Allah Swt. sudah menunjukkan keadilan yang sempurna. 

Hanya saja, banyak di antara kita yang tidak menyadari atau tidak mampu menangkap keadilan Allah Swt. terhadap apa yang menimpa makhluk-Nya. 

Oleh karena itu, sebelum menilai sesuatu itu adil atau tidak, kita harus dapat memperhatikan dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus yang akan dinilai. 

Akal manusia tidak dapat menembus semua dimensi tersebut.

Allah Swt. berfirman:

Rangkuman Materi Memahami Al-Asmaul Al-Husna

Artinya: “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur’ān, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimatkalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-An’ām/6:115).

Allah Swt. Mahaadil. Dia menempatkan semua manusia pada posisi yang sama dan sederajat. Tidak ada yang ditinggikan hanya karena keturunan, kekayaan, atau karena jabatan.


7. Al-Akhir

Secara bahasa Al-Akhir artinya "Yang Maha akhir" 

Al-Akhir artinya tidak ada sesuatu pun setelah Allah Swt. Dia Maha kekal tatkala semua makhluk hancur, Mahakekal dengan kekekalan-Nya.

Adapun kekekalan makhluk-Nya adalah kekekalan yang terbatas, seperti halnya kekekalan surga, neraka, dan apa yang ada di dalamnya. Surga adalah makhluk yang Allah Swt. ciptakan dengan ketentuan, kehendak, dan perintah-Nya.

Nama ini disebutkan di dalam firman-Nya:

Firman allah Swt. tengtang al akhir

Artinya: “Dialah Yang Awal dan Akhir Yang Żahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu“. (Q.S. al-Ĥadid/57:3).

Allah Swt. berkehendak untuk menetapkan makhluk yang kekal dan yang tidak, namun kekekalan makhluk itu tidak secara zat dan tabi’at. Karena secara tabi’at dan zat, seluruh makhluk ciptaan Allah Swt. adalah fana (tidak kekal).

Sifat kekal tidak dimiliki oleh makhluk, kekekalan yang ada hanya sebatas kekal untuk beberapa masa sesuai dengan ketentuan-Nya.

Orang yang mengesakan Al-Akhir akan menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup selain-Nya, tidak ada permintaan kepada selain-Nya, dan segala kesudahan tertuju hanya kepada-Nya. 

Oleh sebab itu, jadikanlah akhir kesudahan kita hanya kepadaNya. Karena sungguh akhir kesudahan hanya kepada Rabb kita, seluruh sebab dan tujuan jalan akan berujung ke haribaan-Nya semata.


D. Menerapkan Perilaku Mulia

Melalui sifat-sifatnya dalam Al-Asmaul Al-Husna, sebagai orang yang beriman, kita wajib merealisaikannya agar memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. 

Perilaku yang mencerminkan sikap memahami Al-Asmaul Al-Husna, tergambar dalam aktivitas-aktivitas berikut.

1. Menjadi orang yang dermawan 

Sifat dermawan adalah sifat Allah Swt. al-Karim (Maha Pemurah), sehingga sebagai wujud keimanan tersebut, kita harus menjadi orang yang pandai membagi kebahagiaan kepada orang lain baik dalam bentuk harta atau bukan. 

Wujud kedermawanan tersebut, misalnya seperti berikut.

  • Selalu menyisihkan uang jajan untuk kotak amal setiap hari Jum’at yang diedarkan oleh petugas Rohis.
  • Membantu teman yang sedang dalam kesulitan. 
  • Menjamu tamu yang datang ke rumah sesuai dengan kemampuan.

2. Menjadi Orang yang Jujur dan Dapat Memberikan Rasa Aman

Wujud dari meneladani sifat Allah Swt al-Mu’min adalah seperti berikut. 

  • Menolong teman/orang lain yang sedang dalam bahaya atau ketakutan. 
  • Menyingkirkan duri, paku, atau benda lain yang ada di jalan yang dapat membahayakan pengguna jalan. 
  • Membantu orang tua atau anak-anak yang akan menyeberangi jalan raya.

3. Senantiasa Bertawakkal Kepada Allah Swt. 

Wujud dari meneladani sifat Allah Swt. al-Wakil dapat berupa hal-hal berikut.

  • Menjadi pribadi yang mandiri, melakukan pekerjaan tanpa harus merepotkan orang lain.
  • Bekerja/belajar dengan sunguh-sungguh karena Allah Swt. tidak akan mengubah nasib seseorang apabila orang tersebut tidak mau berusaha.

4. Menjadi Pribadi yang Kuat dan Teguh Pendirian 

Perwujudan meneladani dari sifat Allah Swt. al-Matin dapat berupa hal-hal berikut.

  • Tidak mudah terpengaruh oleh rayuan atau ajakan orang lain untuk melakukan perbuatan tercela. 
  • Kuat dan sabar dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan yang dihadapi.

5. Berkarakter Pemimpin 

Pewujudan meneladani sifat Allah Swt. al-Jami, di antaranya seperti berikut. 

  • Mempersatukan orang-orang yang sedang berselisih. 
  • Rajin melaksanakan śalat berjama’ah. 
  • Hidup bermasyarakat agar dapat memberikan manfaat kepada orang lain.

6. Berlaku Adil 

Perwujudan meneladani sifat Allah Swt. al-Adl, misalnya seperti berikut.

  • Tidak memihak atau membela orang yang bersalah, meskipun orang tersebut saudara atau teman kita.
  • Menjaga diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar dari kezaliman.

7. Menjadi Orang yang Bertakwa 

Meneladani sifat Allah Swt. al-Akhir adalah dengan cara seperti berikut.

  • Selalu melaksanakan perintah Allah Swt. seperti śalat lima waktu, patuh dan hormat kepada orang tua dan guru, puasa, dan kewajiban lainnya. 
  • Meninggalkan dan menjauhi semua larangan Allah Swt. seperti mencuri, minum-minuman keras, berjudi, pergaulan bebas, melawan orang tua, dan larangan lainnya.


Membuka Relung Hati

Jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. salah satunya adalah melalui zikir.

Zikir artinya mengingat Allah Swt. dengan menyebut dan memuji nama-Nya.

Syarat yang sangat fundamental yang diperlukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui zikir adalah kemampuan dalam menguasai nafsu, selanjutnya bila menyebut nama Allah Swt. (al-Asmā’u al-Husnā) berulang-ulang di dalam hati akan menghadirkan rasa rendah hati (tawadhu’) yang disertai dengan rasa takut karena merasakan keagungan-Nya. 

Zikir dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Berżikir tidak perlu menghitung berapa jumlah bilangan yang harus diżikirkan, namun yang penting adalah żikir harus benar-benar menghujam di dalam kalbu (hati).

Selain zikir, cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. dapat juga dilakukan melalui perbuatan atau amaliah sehari-hari, yaitu dengan selalu meniatkan bahwa yang kita lakukan semata-mata hanya karena taat mematuhi aturan mainNya.

Misalnya:

  • Kita berbuat baik kepada tetangga bukan karena tetangga baik kepada kita, tetapi semata-mata karena Allah Swt. menyuruh kita untuk berbuat baik. 
  • Kita bersedekah bukan karena kasihan, tetapi semata-mata karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mengeluarkan sedekah membantu meringankan beban orang yang sedang mengalami kesulitan.


Mengkritisi Sekitar Kita

Manusia adalah makhluk yang sering lupa dan sering berbuat kesalahan.

Manusia memiliki sifat dan karakter yaitu sering berbuat kesalahan dan lupa, yang artinya, tidak ada seorang pun yang terbebas dari kesalahan dan lupa.

Sebagai seorang yang beriman, kita dituntut untuk selalu melakukan refleksi dan perenungan terhadap apa yang telah kita perbuat.

Ketika seseorang terlanjur melakukan kesalahan, bersegeralah untuk kembali ke jalan yang benar dengan bertaubat dan tidak mengulanginya lagi.

Demikian pula dengan sifat lupa, kadang menjadi sebuah nikmat dan juga bencana.


Pesan-Pesan Mulia

Kisah Nabi Ibrahim as. Mencari Tuhan

Nabi Ibrahim as. adalah putra Azar. Ia dilahirkan di wilayah Kerajaan Babylonia yang saat itu diperintah oleh Raja Namrud. Namrud adalah raja yang sangat sombong yang mengaku dirinya adalah Tuhan. Raja Namrud juga dikenal sangat kejam kepada siapa saja yang menentang kekuasaannya. 

Suatu saat ia bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia melihat seorang anak laki-laki yang memasuki kamarnya kemudian mengambil mahkotanya. Kemudian, ia pun memanggil tukang ramal yang sangat terkenal untuk mengartikan mimpinya tersebut. Tukang ramal mengartikan bahwa anak yang hadir dalam mimpinya tersebut kelak akan meruntuhkan kerajaannya. Mendengar hal tersebut, Namrud murka. Akhirnya, diperintahkannya kepada seluruh tentara kerajaan agar membunuh setiap bayi laki-laki yang dilahirkan.

Azar yang istrinya saat itu sedang mengandung bayi yang kelak dinamakan Ibrahim begitu khawatir akan keselamatan bayi yang sedang dikandung istrinya. Ia khawatir bahwa bayi yang ada dalam perut istrinya adalah seorang bayi lakilaki yang selama ini ia idam-idamkan. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan calon bayinya tersebut diam-diam ia mengajak istrinya ke dalam sebuah gua yang jauh dari keramaian. Di gua itulah kemudian bayi Ibrahim dilahirkan. Agar tidak diketahui oleh khalayak ramai, Azar dan istrinya meninggalkan Ibrahim yang masih bayi di dalam gua dan sesekali datang untuk melihat keadaannya. Hal itu terus dilakukan hingga Ibrahim menjadi anak kecil yang tumbuh sehat dan kuat atas izin Allah Swt. Bagaimana Ibrahim dapat hidup di dalam gua, padahal tidak ada makanan dan minuman yang diberikan? Jawabannya karena Allah Swt. menganugerahkan Ibrahim untuk menghisap jari tangannya yang dari situ keluarlah air susu yang sangat baik. Itulah mukjizat pertama yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim as.

Lama hidup di dalam gua tentu membuat Ibrahim sangat terbatas pengetahuannya tentang alam sekitar. Oleh karena itu, di saat terdapat kesempatan untuk keluar dari gua, Ibrahim pun melakukannya. Betapa terkejutnya ia, ternyata alam di luar gua begitu luas dan indah. Di dalam ketakjubannya itu, Ibrahim berpikir bahwa alam yang luas dan indah berikut isinya termasuk manusia, pasti ada yang menciptakannya. Kemudian, Nabi Ibrahim berjalan untuk mencari Tuhan. Ia mengamati lingkungan sekelilingnya. Namun, ia tidak menemukan sesuatu yang membuatnya kagum dan merasa harus dijadikan Tuhannya.

Di siang hari, Ibrahim melihat cerahnya matahari menyinari bumi. Ia berpikir, mungkin matahari adalah tuhan yang ia cari. Tetapi ketika senja datang dan matahari tenggelam di ufuknya, gugurlah keyakinan Ibrahim akan matahari sebagai tuhan. Sampai akhirnya, malam pun datang menjelang. Bintang di langit bermunculan dengan indahnya. Sinarnya berkelap-kelip membuat suasana malam menjadi lebih indah dan cerah. “Apakah ini Tuhan yang aku cari?” Kata Ibrahim dengan gembira. Ditatapnya bintang-bintang itu dengan penuh rasa bangga. Tetapi ternyata, ketika malam beranjak pagi, bintang-bintang itu pun beranjak satu persatu. Dengan pandangan kecewa, Nabi Ibrahim melihat satu persatu bintang-bintang itu menghilang. “Aku tidak menyukai Tuhan yang dapat menghilang dan tenggelam karena waktu,” gumamnya dengan perasaan kecewa.

Nabi Ibrahim pun mencoba mencari Tuhan yang lain. Memasuki malam berikutnya, bulan pun muncul dan bersinar memancarkan cahayanya yang keemasan. Ia pun menduga, “Inikah Tuhan yang aku cari?” namun, ketika pagi datang menjelang, bulan pun hilang tanpa alasan. Seperti halnya terhadap matahari dan bintang, Ibrahim pun memastikan bahwa bukanlah matahari, bintang, dan bulan yang menjadi Tuhan untuk disembah, tetapi pasti ada satu kekuatan Yang Mahaperkasa dan Mahaagung yang menggerakkan dan menghidupkan semua yang ada. Ibrahim pun menyimpulkan bahwa Tuhan tidak lain adalah Allah Swt.

Ketika keyakinan Nabi Ibrahim as. kepada Allah Swt. betul-betul merasuki jiwanya, mulailah ia mengajak orang-orang di sekitarnya untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Karena berhala tidak memiliki kekuatan apa pun dan tidak pula memberi manfaat. Orang pertama yang ia ajak hanya untuk menyembah Allah Swt. adalah Azar, ayahnya yang berprofesi sebagai pembuat patung untuk disembah. Mendengar ajakan Ibrahim, Azar marah karena apa yang dilakukannya semata-mata apa yang sudah dilakukan oleh nenek moyangnya dahulu. Azar meminta Ibrahim untuk tidak menghina dan melecehkan berhala yang seharusnya ia sembah. “Wahai saudaraku! Patung-patung itu hanyalah buatan manusia yang tidak dapat bergerak dan tidak memberi manfaat sedikitpun. Mengapa kalian sembah dengan memohon kepadanya?” Demikian ajakan Ibrahim kepada umatnya. Akan tetapi, kaumnya tidak mau mendengarkan dan mengikuti ajakan Nabi Ibrahim as., bahkan mereka mencemooh dan memaki Ibrahim.

Menyadari bahwa ajakannya untuk menyembah hanya kepada Allah Swt. tidak mendapatkan respon dari umatnya, Nabi Ibrahim as. mengatur cara bagaimana melakukan dakwah secara cerdas dan lebih efektif. Oleh karena itu, tatkala seluruh penduduk negeri termasuk Raja Namrud pergi untuk berburu, Nabi Ibrahim masuk ke dalam kuil penyembahan berhala kemudian menghancurkan semua berhala yang ada dengan sebuah kapak besar yang telah disiapkan. Semua berhala hancur kecuali berhala yang paling besar yang ia sisakan. Pada berhala besar itu, ia gantungkan kapak di lehernya.

Sekembalinya dari perburuan, semua penduduk negeri termasuk Namrud, terkejut luar biasa. Mereka dengan sangat marah mencari tahu siapa yang berani melakukan perbuatan tersebut. Mengetahui bahwa Ibrahimlah satu-satunya lelaki yang tidak ikut serta dalam perburuan, Raja memerintahkan semua tentara untuk memanggil dan menangkap Ibrahim untuk dihadapkan kepada dirinya. Sesampainya di hadapan Raja Namrud, Ibrahim berdiri dengan tegak dan penuh percaya diri. 

“Hai Ibrahim, apakah kamu yang menghancurkan berhala-berhala itu?” tanya Raja Namrud. 

“Tidak, saya tidak melakukannya,” jawab Ibrahim as. 

“Jangan mengelak, wahai Ibrahim, bukankah kamu satu-satunya orang yang berada di negeri saat semuanya pergi berburu?” sergah Raja Namrud. 

“Sekali lagi tidak! Bukan aku yang melakukannya, tetapi berhala besar itu yang melakukannya,” jawab Ibrahim as. dengan tenang. 

Mendengar jawaban Nabi Ibrahim, Raja Namrud marah seraya berkata, “Mana mungkin berhala yang tidak dapat bergerak engkau tuduh sebagai penghancur berhala lainnya?”

Mendengar perkataan Raja Namrud, Ibrahim as. tersenyum kemudian berkata, “Sekarang Anda tahu dan Anda yang mengatakannya sendiri bahwa berhala-berhala itu tidak dapat bergerak dan memberikan bantuan apa-apa. Lalu, mengapa Anda sembah berhala-berhala itu?”

Mendengar jawaban Ibrahim as. yang tidak disangka-sangka, Namrud sebetulnya menyadari hal tersebut. Namun, karena kebodohan dan kesombongannya, ia tetap saja tidak memedulikan argumentasi Ibrahim as. Ia kemudian memerintahkan semua tentaranya untuk membakar Ibrahim hidup-hidup sebagai hukuman atas perlakuannya kepada berhala-berhala yang mereka sembah.

Setelah semua persiapan untuk membakar Ibrahim as. telah lengkap, dilemparkanlah Ibarahim ke dalam api yang berkobar sangat besar dan panas. Apa yang terjadi kemudian? Allah Swt. menunjukkan Kemahakuasaan-Nya dengan meminta api agar dingin untuk menyelamatkan Ibrahim as. Api pun dingin sehingga tidak sedikit pun Ibrahim as. terluka karenanya. Itulah mu’jizat terbesar yang diterima Nabi Ibrahim, yaitu tidak terluka saat dibakar dengan api yang sangat panas.


Baca Materi:


Rangkuman Materi Memahami Al-Asmaul Al-Husna: Pelajaran Agama Islam Kelas 10
Sumber: Buku PAI Kelas 10

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel