Kajian Stilistika : hakikat, tujuan, pendekatan, dan contohnya - erapandu

Kajian Stilistika : hakikat, tujuan, pendekatan, dan contohnya

Kajian Stilistika

Kajian Stilistika - Stilistika (stylistic) dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Secara etimologis stylistic berhubungan dengan kata style (gaya).

Cari di sini :
Materi Pelajaran SMP/MTs dan SMA/SMK  Buka
Kumpulan Soal SMP/MTs dan SMA/SMK  Buka
Download Buku Pelajaran  Buka/Unduh
Download Modul Ajar  Buka/Unduh

A. Hakikat Stilistika

Stilistika adalah ilmu pemanfaatan bahasa dalam karya sastra. Penggunaan gaya bahasa secara khusus dalam karya sastra. 

Gaya bahasa yang muncul ketika pengarang mengungkapkan idenya. Gaya bahasa ini merupakan efek seni dan dipengaruhi oleh hati nurani. 

Melalui gaya bahasa itu seorang penyair mengungkapkan idenya. Pengungkapan ide yang diciptakan melalui keindahan dengan gaya bahasa pengarangnya (Endraswara, 2011: 72—73).

Melalui ide dan pemikirannya pengarang membentuk konsep gagasan- nya untuk menghasilkan karya sastra. 

Aminuddin (1997:68) mengemukakan stilistika adalah wujud dari cara pengarang untuk menggunakan sistem tanda yang sejalan dengan gagasan yang akan disampaikan. 

Namun yang menjadi perhatian adalah kompleksitas dari kekayaan unsur pembentuk karya sastra yang dijadikan sasaran kajian adalah wujud penggunaan sistem tandanya.

Secara sederhana menurut Sudiman dikutip Nurhayati (2008: 8), Stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. 

Konsep utamanya adalah penggunaan bahasa dan gaya bahasa. Peranan dari pembentukan kata dan bahasa yang memiliki kekhasan dengan gaya bahasanya. 

Intinya, untuk melihat bagaimana seorang pengarang mengungkapkan karyanya dengan dasar dan pemikirannya sendiri.

Dalam hal ini untuk memahami konsep stilistik secara seksama Nurhayati (2008: 7) mengemukakan pada dasarnya stilistika memiliki dua pemahaman dan jalan pemikiran yang berbeda. 

Pemikiran tersebut menekankan pada aspek gramatikal dengan memberikan contoh-contoh analisis linguistik terhadap karya sastra yang diamati. 

Selain itu pula, stillistika mempunyai pertalian juga dengan aspek- aspek sastra yang menjadi objek penelitiannya adalah wacana sastra.

Stilistika secara definitif adalah ilmu yang berkaiatan dengan gaya dan gaya bahasa. Tetapi pada umumnya lebih banyak mengacu pada gaya bahasa. 

Dalam pengertiannya secara luas stilistika merupakan ilmu tentang gaya, meliputi berbagai cara yang dilakukan dalam kegiatan manusia (Ratna, 2011: 167). 

Stilistika adalah ilmu yang mempelajari penggunaan bahasa dan gaya bahasa.
Download Kumpulan Referensi 

Buka/Unduh

B. Tujuan Kajian Stilistika

Stilistika sebagai salah satu kajian untuk menganalisis karya sastra. 

Endraswara (2011: 72) mengemukakan bahasa sastra memiliki tugas mulia. Bahasa memiliki pesan keindahan dan sekaligus pembawa makna. 

Tanpa keindahan bahasa, karya sastra menjadi hambar. Keindahan suatu sastra dipengaruhi oleh kemampuan penulis mengolah kata. Keindahan karya sastra juga memberikan bobot penilaian pada karya sastra itu. 

Selain itu, menurut Sudjiman dikutip Nurhayati (2008: 11) mengemukakan titik berat pengkajian stilistik adalah terletak pada penggunaan bahasa dan gaya bahasa suatu sastra, tetapi tujuan utamanya adalah meneliti efek estetika bahasa. 

Keindahan juga merupakan bagian pengukur dan penentu dari sebuah sastra yang bernilai.

C. Pendekatan dalam Stilistika

Melalui stilistika dapat dijabarkan ciri-ciri khusus karya sastra. Berdasarkan hal itu, Wellek, dan Warren (2002: 226) menyatakan ada dua kemungkinan pendekatan analisis stilistika dengan cara semacam itu. 

Pertama di analisis secara sistematis tentang sistem linguistik karya sastra, kemudian membahas interprestasi tentang ciri-cirinya dilihat berdasarkan makna total atau makna keseluruhan. 

Melalui hal ini akan muncul sistem linguistik yang khas dari karya atau sekelompok karya. 

Kedua yaitu mempelajari sejumlah ciri khas membedakan sistem satu dengan yang lainnya. 

Analisis stilistika adalah dengan mengamati deviasi-deviasi seperti pengulangan bunyi, inversi susunan kata, susunan hirarki klausa yang semuanya mempunyai fungsi estetis penekanan, atau membuat kejelasan, atau justru kebalikannya yang membuat makna menjadi tidak jelas.

Sejalan dengan pernyataan di atas dalam kajian stilistik dipengaruhi oleh karya sastra dan bentuk pendekatan yang digunakan. 

Nurhayati (2008: 13—20) mengemukakan lima pendekatan yang dapat digunakan yaitu, sebagai berikut:

1. Pendekatan Halliday

Dalam pendekatan ini Halliday mengilustrasikan bagaimana kategori- kategori dan metode-metode linguistik deskriptif dapat diaplikasikan ke dalam analisis teks-teks sastra seperti dalam materi analisis teks yang lainnya. 

Melalui hal ini, analisis bukan hanya kepada interprestasi atau evaluasi estetika terhadap pesan-pesan sastra yang dianalisisnya. 

Tetapi hanya kepada deskripsi unsur-unsur bahasa. Dalam kajiannya ia tidak mengungkapkan bagaimana bentuk-bentuk verbal tersebut disusun sehingga berhubungan dengan bentuk lainnya pada hubungan intra-tekstual.

2. Pendekatan Sinclair

Pendekatan ini searah dengan teori pendekatan Halliday. Ia menerapkan kategori-kategori deskripsi linguistik Halliday. 

Sinclair mengemukakan terdapat dua aspek yang berperan penting dalam pengungkapan pola-pola intratekstual karya sastra. 

Berikut ini menurut Sinclair dua aspek organisasi linguistik yang berperan penting dalam penngungkapan pola-pola intertekstual dalam karya sastra.

Pertama arrest yang terjadi pada pola sintaksis yang dapat diprediksi terhalang atau terpotong unit-unit linguistik lainnya sehingga penyelesaian tertunda.

contoh puisi:

Lambs that lo learn to walk in snow
When their bleating coulds the air Meet a vast unwelcome...


Pada baris pertama puisi tersebut terdapat frasa nomina (Lambs that lo learn to walk in snow) + frasa verba (meet a vast unwelcome) terhalang oleh adverbia “When their bleating coulds the air” jadi pola puisi tersebut terjadi penyelesaian yang tertunda.

Kedua realease yang terjadi pada sebuah struktur sintaksis diperluas setelah prediksi-prediksi semua unsur gramatikal terpenuhi. 

Pada kasus di atas terdapat perluasan unit-unit linguistik terhadap sebuah pola yang keseluruhannya sintaksis.

3. Pendekatan Goeffrey Leech

Leech mengemukakn bahwa karya sastra mengandung dimensi-dimensi makna tambahan yang beroperasi pula di dalam wacana lainnya. 

Leech meng- ungkapkan tiga gejala ekspresi sastra, yaitu cohesion, foregrounding, dan cohesion of foregrounding. Ketiga gejala ekspresi ini menghadirkan dimensi- dimensi makna yang berbeda yang tidak tercakup oleh deskripsi linguistik dengan kategori-kategori normalnya. 

Cohesion merupakan hubungan interatekstual antara unsur gramatikal dengan unsur leksikal yang jalin-menjalin dalam sebuah teks sehingga menjadi sebuah unit wacana yang lengkap. Foregrounding merupakan gejala khas yang hanya terdapat dalam karya sastra. 

Sedangkan cohesion of foregrounding adalah penyimpangan-penyimpangan dalam teks yang dihubungkan dengan bentuk lain untuk membentuk pola-pola intratekstual.

4. Pendekatan Roman Jakobson

Pendekatan ini menggolongkan fungsi puitik bahasa sebagai sebuah penggunaan bahasa yang berpusat kepada bentuk aktual dari pesan itu sendiri. 

Tulisan sastra tidak seperti bentuk-bentuk lainnya. Dalam tulisan sastra ditemukan pesan yang berpusat pada pesan itu sendiri. Berbeda dengan Leech yang mengemukakan bahwa foregrounding berfokus kepada perhatian pembaca terhadap bentuk aktual pesan yang disampaikan. 

Jakobson mengungkapkan pandangan bahwa jenis kedua foregrounding yang dikemukan oleh Leech merupakan kriteria esensial fungsi puitik yaitu adanya pembentukan kesejajaran di mana kesejajaran tersebut tidak secara normal terjadi.

Jakobson mengacu pada poros bahasa yang disusun yaitu poros sintagmatig atau poros seleksi dan poros paradigmatis atau poros kombinasi.

5. Pendekatan Samuel R. Levin

Pendekatan Levin dalam analisis stilistika serupa dengan pendekatan Halliday dan Sinclair yang berpusat pada analisis butir-butir linguistik. Levin juga mengembangkan gagasan kesejajaran yang juga dikemukakan oleh Jakobson. 

Dalam hal ini kesejajaran tersebut berlaku pada level fonologi, sintaksis, dan semantik yang untuk menghasilkan ciri-ciri struktural yang membedakan antara wacana puisi dengan wacana lainnya.

Dua unsur bahasa mempunyai padanan semantik apabila keduanya dihubungkan dengan sistem relasi makna dalam bahasa tersebut dan dianggap memiliki kelas padanan natural yang sama, 

misalnya sinonim kata ‘happy’ dan ‘gay’ lawan kata seperti ‘happy’ dan ‘sad’ atau hiponim seperti emotiondan sadness. 

Kata-kata yang terdapat dalam bidang semantik juga termasuk juga anggota kelas padanan yang sama seperti bulan, bintang, laut, waktu dan matahari. 

Kata-kata tersebut memiliki pertalian semantis.


D. Teori yang Berhubungan dengan Kajian Stilistika

Pembentuk utama unsur puisi selain bahasa adalah keindahan. Pada dasarnya kajian stilistika dikemukakan beberapa teori-teori yang berhubungan. 

Menurut Nurhayati (2008: 30-38) teori-teori tersebut digunakan untuk menganalisis bahasa. Teori tersebut adalah sebagai berikut:

1. Diksi

Pemilihan kata sangat erat kaitannya dengan hakikat puisi yang penuh pemadatan. Oleh karena itu, penyair harus pandai memilih kata- kata. 

Penyair harus cermat agar komposisi bunyi rima dan irama memiliki kedudukan yang sesuai dan indah. Selain itu, Tarigan (2011: 29) mengemukakan diksi adalah pilihan kata yang digunakan oleh penyair. Pilihan kata yang tepat dapat men- cerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, dan nada dalam suatu puisi.

2. Citraan

Merupakan penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, pikiran dan setiap pengalaman indera atau pengalaman indera yang istimewa. 

Dalam hal ini yang dimaksud adalah citraan yang meliputi gambaran angan-angan dan pengguna bahasa yang menggambarkan angan-angan tersebut, sedangkan setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji. 

Secara spesifik Tarigan (2011: 31) dalam menciptakan karya penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga merekalah yang benar-benar meng- alami peristiwa dan perasaan ter- sebut. 

Penyair berusaha agar pe- nikmat dapat melihat, merasakan mendengar, dan menyentuh apa yang ia alami dan rasakan.

3. Kata-kata konkret

Merupakan kata yang dapat melukiskan dengan tepat, membayangkan dengan jitu apa yang hendak dikemukakan oleh pe- ngarang. 

Tarigan (2011: 32) meng- ungkapkan salah satu cara mem- bangkitkan daya bayang imajianasi para penikmat puisi adalah meng- gunakan kata-kata yang tepat, kata yang dapat menyarankan suatu pengertian secara menyeluruh.

Bahasa figuratif, untuk memperoleh kepuitisan, penyair menggunakan bahasa figuratif, yaitu bahasa kiasan atau majas. 

Menurut Endraswara (2011: 73) terdapat dua macam bahasa kiasan atau stilistik kiasan, yaitu gaya retorik dan gaya kiasan. Gaya retorik meliputi eufemisme, paradoks, tautologi, polisndeton, dan sebagainya. Sedangkan gaya kiasan amat banyak ragamnya antara lain alegori, personifikasi, simile, sarkasme, dan sebagainya. 

Menurut Ratna (2011: 164) majas (figure of speech) adalah pilihan kata tertentu sesuai dengan maksud penulis atau pembicara dalam rangka memperoleh aspek keindahan.

4. Rima dan ritma

Merupakan pengulangan bunyi dalam puisi. Dengan pengulangan bunyi tersebut, puisi menjadi merdu bila dibaca. Bentuk-bentuk rima yang paling sering muncul adalah aliterasi, asonansi, dan rima akhir. 

Bunyi- bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan suatu gerak yang teratur. Gerak yang teratur tersebut di sebut ritma atau rhythm. 

Tarigan (2011: 35) mengatakan rima dan ritma memiliki pengaruh untuk memperjelas makna puisi. Dalam kepustakaan Indonesia, ritme atau irama adalah turun naiknya suara secara teratur, sedangkan rima adalah persamaan bunyi. 


Referensi:
  • Aminnuddin. 2000. Stilistika, Pengantar Memahami Karya Sastra. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
  • Endraswara, Suwardi. 2011. Metodelogi Penelitian Sastra. Yogyakarta: CAPS.
  • Nurhayati. 2008. Teori dan Aplikasi Stilistik. Penerbit Unsri.
  • Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika, Kajian Puitika Bahasa, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Tarigan, HG. 2011. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
  • Wellek, R dan Warren, A. 2002. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sumber: Arinah Fransori

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel